Wednesday, 30 July 2014

Cerpen Islami

Cerpen Islami – Untuk melakukan bimbingan atau pengetahuan kita tentang hal islami yang benar bisa melalui contoh cerpen islami. Dengan adanya cerita kita bisa lebih mengerti apa yang harus kita lakukan dan tidak boleh. Cerpen Islami akan lebih mengena dalam hati karena adanya contoh nyata dalam cerita. Cerita Islami dibawah ini dikutip dari berbagai sumber termasuk dari eramuslim

Isyarat

Suatu malam di sebuah rumah, seorang anak usia tiga tahun sedang menyimak sebuah suara. “Ting…ting…ting! Ting…ting…ting!” Pikiran dan matanya menerawang ke isi rumah. Tapi, tak satu pun yang pas jadi jawaban.

“Itu suara pedagang bakso keliling, Nak!” suara sang ibu menangkap kebingungan anaknya. “Kenapa ia melakukan itu, Bu?” tanya sang anak polos. Sambil senyum, ibu itu menghampiri. “Itulah isyarat. Tukang bakso cuma ingin bilang, ‘Aku ada di sekitar sini!” jawab si ibu lembut.

Beberapa jam setelah itu, anak kecil tadi lagi-lagi menyimak suara asing. Kali ini berbunyi beda. Persis seperti klakson kendaraan. “Teeet…teeet….teeet!”

Ia melongok lewat jendela. Sebuah gerobak dengan lampu petromak tampak didorong seseorang melewati jalan depan rumahnya. Lagi-lagi, anak kecil itu bingung. Apa maksud suara itu, padahal tak sesuatu pun yang menghalangi jalan. Kenapa mesti membunyikan klakson. Sember lagi!

“Anakku. Itu tukang sate ayam. Suara klakson itu isyarat. Ia pun cuma ingin mengatakan, ‘Aku ada di dekatmu! Hampirilah!” ungkap sang ibu lagi-lagi menangkap kebingungan anaknya. “Kok ibu tahu?” kilah si anak lebih serius. Tangan sang ibu membelai lembut rambut anaknya.

“Nak, bukan cuma ibu yang tahu. Semua orang dewasa pun paham itu. Simak dan pahamilah. Kelak, kamu akan tahu isyarat-isyarat itu!” ucap si ibu penuh perhatian. **

Di antara kedewasaan melakoni hidup adalah kemampuan menangkap dan memahami isyarat, tanda, simbol, dan sejenisnya. Mungkin, itulah bahasa tingkat tinggi yang dianugerahi Allah buat makhluk yang bernama manusia.

Begitu efesien, begitu efektif. Tak perlu berteriak, tak perlu menerabas batas-batas etika; orang bisa paham maksud si pembicara. Cukup dengan berdehem ‘ehm’ misalnya, orang pun paham kalau di ruang yang tampak kosong itu masih ada yang tinggal.

Di pentas dunia ini, alam kerap menampakkan seribu satu isyarat. Gelombang laut yang tiba-tiba naik ke daratan, tanah yang bergetar kuat, cuaca yang tak lagi mau teratur, angin yang tiba-tiba mampu menerbangkan rumah, dan virus mematikan yang entah darimana sekonyong-konyong hinggap di kehidupan manusia.

Itulah bahasa tingkat tinggi yang cuma bisa dimengerti oleh mereka yang dewasa. Itulah isyarat Tuhan: “Aku selalu di dekatmu, kemana pun kau menjauh!”

Simak dan pahamilah. Agar, kita tidak seperti anak kecil yang cuma bisa bingung dan gelisah dengan kentingan tukang bakso dan klakson pedagang sate ayam. (muhammadnuh@eramuslim.com)

 

Beda Kelas

Keharmonisan berumah tangga kadang tak ubahnya seperti putaran roda sepeda motor. Putarannya harus selaras dan sepadan. Sedikit saja kempis di salah satu ban, perjalanan jadi tak nyaman.

Kesepadanan suami isteri memang sangat dibutuhkan dalam hidup berumah tangga. Jangan sampai ada ketimpangan dalam hal apa pun. Bisa pendidikan, status sosial, ekonomi, dan mungkin penampilan.

Di situlah mungkin pelajaran berharga dari pernikahan sahabat Rasul yang bernama Zaid dengan Zainab bisa dipetik. Walaupun nama dua hamba Allah yang saleh ini sama-sama diawali Z, ternyata kesepadanan bukan dari situ. Bukan juga dari tingkat kesalehan mereka. Tapi, ada hal lain yang bukan sekadar pernik dan nilai. Antara lain adalah kesepadanan dalam penampilan.

Memang, Islam tidak secara eksplisit mensyaratkan kesepadanan penampilan dalam ukuran harmonis tidaknya sebuah pernikahan. Prinsipnya satu akidah dan adanya kesamaan visi dalam membangun rumah tangga yang Islami. Setelah itu, adaptasilah yang mesti bekerja keras. Dari penyesuaian-penyesuaian itulah lahir keseimbangan dan keharmonisan.

Namun, kadang kenyataan hidup memberikan gambaran lain tentang kesepadanan. Ia memang bukan hal utama. Tidak juga bisa memutus tali pernikahan. Karena cinta memang bukan urusan logika penampilan. Hanya pernik-pernik lain dari sebuah perjalanan pernikahan. Setidaknya, hal itulah yang kini dialami Pak Oji.

Bapak satu anak ini punya kesan sendiri soal kesepadanan. Ia ingat betul ketika tiga tahun lalu proses pernikahannya bergulir. Waktu itu, tak terbayang buat Pak Oji ingin punya isteri cantik. “Yang penting salehah,” tekadnya waktu itu.

Tekad itu bukan menunjukkan rendahnya cita-cita Pak Oji. Bukan itu. Justru, kesalehanlah cita-cita yang paling utama Pak Oji. Kenapa tak perlu cantik? Nah, itu urusan lain yang berhubungan erat dengan kenyataan dirinya.

Kenyataannya, Pak Oji memang bukan tergolong pemuda ganteng. Warna kulitnya agak hitam. Rambutnya kucai alias tak keriting sama sekali. Hidungnya tidak mancung. Bibirnya agak sedikit tebal dari ukuran normal. Badannya kurus dan tingginya tak lebih dari satu setengah meter.

Tapi, Pak Oji sama sekali tidak gelisah. Ia justru sangat bersyukur dengan rupa yang Allah berikan. Tidak sedikit orang yang terlahir cacat. Ada yang buta, tuli, tak bertangan atau berkaki. Ibarat mobil, Pak Oji cuma butuh aksesoris. Karena semua fungsi komponennya berjalan normal. Ia bersyukur dengan anugerah Allah itu. Dan salah satu bentuk syukur itu, Pak Oji tak bermuluk-muluk memilih calon isteri. Sekali lagi, yang penting salehah.

Namun, kenyataan kadang datang di luar dugaan. Dan kenyataan yang diperoleh Pak Oji justru luar biasa. Calon isteri yang siap menikah dengan pemuda lulusan pesantren ini bukan sekadar salehah, tapi juga cantik.

Mengenang itu, Pak Oji selalu mengucap ‘alhamdulillah’. Dan lebih alhamdulillah lagi ketika anak pertamanya lahir. Sama sekali tidak ada kesan kontribusi Pak Oji dalam paras anaknya. Semuanya murni wajah isterinya.

Dalam banyak momen, Pak Oji mesti kuat menjaga syukurnya itu. Pasalnya, banyak orang yang salah paham. Dan semua itu sebagai bentuk lain dari ujian buat Pak Oji.

Pernah suatu kali, ia mengantar isterinya ke majelis taklim dengan sepeda motor. Setelah turun dari motor, seorang ibu menghampiri isterinya. Dengan ramah ibu itu berujar, “Neng, berapa ongkos ojek dari depan ke sini?” Isterinya cuma senyum.

Pernah juga seorang teman lama isterinya berkunjung ke rumah Pak Oji. Wanita itu cuek saja ketika Pak Oji membukakan pintu gerbang halaman. Setelah saling bertemu, teman isterinya itu bicara, “Eh, suamimu mana?”

Yang lebih memprihatinkan ketika Pak Oji berjalan-jalan pagi sambil menggendong anaknya yang masih batita. Sesekali, orang yang berpapasan dengan Pak Oji menatap lekat. Entah apa yang mereka pikirkan. Hingga seorang ibu menyapanya, “Aduh anak cantik, olahraga pagi, ya! Orang tuanya pada kemana, Pak?” Pak Oji cuma senyum miris.

Belum lagi reda suasana miris di hati Pak Oji, segerombol anak-anak usia SD bisik-bisik ketika berpapasan. Di luar dugaan, anak-anak itu tiba-tiba berteriak kompak, “Anaknya cakep, bapaknya jelek! Anaknya cakep, bapaknya jelek! Horeee!” Astaghfirullah.

Di satu sisi, Pak Oji memang patut bersyukur dengan anugerah Allah berupa isteri dan anak yang cantik. Itulah dua sosok yang kerap menjadi target doanya sejak lajang: isteri dan anak yang bisa menjadi penyejuk mata. Tapi di sisi lain, ujiannya lumayan berasa.

Dari semua timbangan, Pak Oji tetap pada posisi untung. Pasalnya, lontaran ketidaksepadanan hanya keluar dari orang luar. Bukan dari isterinya sendiri. Ia tak bisa membayangkan jika keluhan itu dari isteri tercintanya sendiri. “Ah, Allah memang tahu kadar hamba-Nya,” suara Pak Oji dalam hati.

Hidup berumah tangga memang mirip bersepeda motor. Perlu kesepadanan agar laju roda bergulir mulus. Namun, salah satu ban kempis tak berarti sepeda motor berhenti berjalan. Biarlah lambat, yang penting bisa tiba ke tujuan dengan selamat. (muhammadnuh@eramuslim.com)

 

sabun colek

Kalau diibaratkan hidup berumah tangga seperti mengendarai bus, peran ganda memang tidak bisa dipungkiri. Adakalanya kondektur merangkap jadi sopir. Dan adakalanya pula, sopir berperan ganda sebagai kondektur.

Hidup berpasangan memang penuh warna-warni. Terlebih ketika sebuah pasangan telah teranugerahi buah hati. Pelangi hidup jadi kian semarak. Dan tiap warna memberikan kenangan tersendiri yang sulit terlupakan.

Di antara warna itu adalah ketika seorang suami ingin merasakan repotnya jadi seorang isteri. Ini otomatis menyangkut beban isteri pada anak-anaknya. Apa saja. Mulai masak, mengurus anak, menata perabot rumah, mencuci dan menyetrika pakaian, serta menampung keluhan anak-anak.

Mungkinkah? Jawaban sebenarnya bukan sekadar mungkin, tapi harus. Karena semua tugas itu memang terpikul di pundak suami. Suamilah yang paling bertanggung jawab atas semua beban hidup keluarga. Semantara isteri hanya sebagai kepanjangan tangan suami.

Buat suami yang mampu, mereka menyediakan para pembantu buat tugas-tugas rumah seperti itu. Ada juru masak, tukang cuci, perawat anak, dan tukang kebun. Tapi, buat yang kantongnya pas-pasan, masih ada cara lain. Mau tidak mau, suami mesti terjun mengurus seisi rumah. Setidaknya, itulah yang kini dialami Pak Hasan.

Bapak lima anak ini sadar betul kalau tugas isteri itu sangat berat. Belum lagi kesibukan sosial di masyarakat. Dan kesibukan luar itu bisa datang dari dua arah: sebagai pelaku dan sebagai peserta. Kalau dua sebagai itu tergabung, kesibukan luar bisa berlipat-lipat.

Buat Pak Hasan, seorang isteri adalah aset keluarga yang sangat mahal. Itulah kenapa ia bukan sekadar mengikhlaskan isterinya aktif di masyarakat, bahkan memberikan semangat ketika hasrat aktif itu mulai redup. Kalau sudah begitu, Pak Hasan mesti siap dengan urusan rumah. “Ah, cuma masak ama nyuci ini lah. Gampang!” tekad Pak Hasan sambil menatap sang isteri pergi.

Mulailah ia repot-repot memasak mie instan. Mie siap, telor ada, air dalam panci mulai tampak mendidih. Tapi…. Sesekali Pak Hasan menoleh ke arah anak-anak yang tak sabar menanti. Ada yang mulai menangis, ada yang teriak-teriak, ada juga yang sibuk berebut piring dan sendok. “Sabar, Nak!” suara Pak Hasan menambah riuh suasana.

Sejenak, ia seperti teringat sesuatu. Tatapannya tiba-tiba begitu tajam ke arah dua benda di hadapannya: mie dan telor. “Eh iya. Mana yang lebih dulu masuk, ya. Mie apa telor? Lha, saya kok jadi bingung,” suara spontan Pak Hasan tiba-tiba. Sementara, suara tangis dan teriakan anak-anaknya kian nyaring. Di luar dugaan, luapan air mendidih lebih dulu mematikan kompor sebelum Pak Hasan mengambil keputusan: antara mie dan telor.

Pernah juga Pak Hasan berepot-repot memandikan tiga anaknya yang masih balita. Sementara dua anaknya yang di SD sudah berangkat ke sekolah. Satu anaknya yang akan mandi tampak menangis, “Nggak mau ayah. Dingin. Ani nggak mau mandi!” Sedang di kamar mandi sudah tampak dua anaknya yang lain sedang guyur-guyuran dengan baju masih melekat di badan. “Hati-hati, Nak. Nanti masuk kuping!” teriak Pak Hasan sambil menggiring satu anaknya yang masih menangis ke kamar mandi.

Sesaat Pak Hasan terdiam. Ia seperti mengingat sesuatu, “Ah iya, sabun mandinya habis.” Pak Hasan tampak bingung. Nggak mungkin memandikan anak dengan bersih kalau nggak dengan sabun. Tapi, siapa yang mau pergi ke warung. Tak ada orang lain kecuali dia dan tiga anaknya yang sedang mandi. Kalau ditinggal pergi, ia khawatir anak-anaknya terjatuh. Duh, gimana dong? Pak Hasan tambah bingung.

Sejenak, matanya menangkap sesuatu di bak pencuci piring. Ah, itu dia. Pak Hasan bergegas mengambil sabun colek yang biasa digunakan isterinya buat cuci piring. “Yah, masih sama-sama sabun,” ucapnya sambil menghampiri anak-anaknya yang mulai kedinginan. Satu per satu, anak-anak diolesi sabun, dibilas untuk kemudian digosok dengan handuk. Mandi pun selesai.

Mulailah Pak Hasan menyiapkan baju salin anak-anak. Ia teliti satu per satu baju yang ada. Mulai dari kecocokan dengan cuaca yang musim hujan, warna, dan keserasian atasan dan bawahan. Saat itulah ia kembali dihibur dengan suara merdu tangis anak-anaknya. Kali ini, bukan cuma satu. Tapi ketiga-tiganya. “Aduh, gatal ayah! Badan adek gatal nih!”

Mendengar itu, spontan Pak Hasan menghampiri anak-anaknya. Ketiganya tampak sibuk menggaruk-garuk tangan, badan, dan kaki. “Kamu kenapa, Nak?” suara Pak Hasan agak panik. Tak ada jawaban kecuali tangis yang kian menderu. “Lha, kenapa ya? Jangan-jangan…sabun colek itu. Ya Allah!”

Pak Hasan menatap tiga anaknya yang sedang tidur siang. Sesekali, ia kembali mengolesi obat gatal di kaki sang anak yang hilang karena tergaruk. “Kasihan anak-anakku!” suara batin Pak Hasan sesaat setelah ia beranjak ke ruang tengah.

Dari ruang itulah ia bisa melihat hampir separuh isi rumahnya. Tampak ruang tamu yang acak-acakan. Dua kursi terbalik, dan taplak meja terlihat menjuntai di atas lemari pajangan. Belum lagi pemandangan lantai yang begitu semarak dengan mie instan mentah yang berserakan.

Ia pun menoleh ke ruang dapur. Tampak di sana piring-piring kotor saling bertumpukan. Dua gelas plastik tergeletak di lantai dengan genangan larutan warna coklat. Tak jauh dari situ, baju dan celana dalam anak-anak berserakan.

Saat itu, Pak Hasan teringat sesuatu. Ia kian sadar betapa tugas seorang isteri tidak mudah. Berat! Ah, ternyata lebih mudah jadi sopir daripada berperan sebagai kondektur. (muhammadnuh@eramuslim.com)

 

Semoga Cerita Islami diatas bisa memberikan anda hikmah yang terkadung dalam cerita tersebut dan membuat membuat kita mengerti atas apa yang disampaikan lewat cerita tersebut

Related Posts to "Cerpen Islami"

Response on "Cerpen Islami"